Minggu, 30 Juni 2019

Sarah Drake Perkenalkan Teknik Pengajaran Berbasis Teknologi Infomasi


Humas IAIN Parepare --- Setelah menjadi native speaker pada kegiatan "set in class" dan "outdoor learning" sehari sebelumnya, yaitu Jumat, 28 Juni 2019. Sarah Drake kembali menjadi narasumber pada Workshop English Teaching Metodology yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah, Sabtu, 29 Juni.









Kegiatan workshop yang dibuka oleh Dekan Fakultas Tarbiyah, H. Saefudin diikuti peserta sebanyak 35 orang (dibatasi) terdiri dari dosen dan mahasiswa yang dipilih secara khusus. Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama antara Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan Celebes Global Art (CEGAT) dan disponsori NGO internasional, yaitu Australian Internasional Development.









Sarah Drake memberikan materi workshop tentang Communicative Language Learning dan memperkenalkan pengajaran yang berbasis aplikasi teknologi informasi dan komunikasi. Communicative Language Learning merupakan metode pembelajaran bahasa yang sangat efektif meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik.









Pada praktek pengajaran, Sarah Drake mampu mendesain dan memaksa peserta aktif berbahasa Inggris dengan pengelolaan kelas yang interaktif dan menyenangkan. Teknik komunikasi yang diperankan Sarah dapat menciptakan dan mengstimulasi peserta didik untuk mengikuti setiap instruksi pembelajaran. Hasilnya, semua peserta didik pro aktif dalam pembelajaran. Metode Communicative Language Learning dianggap berhasil jika keaktifan peserta didik mencapai 80%.









Sarah Drake juga memperkenalkan aplikasi pengajaran yang berbasis teknologi Informasi. Salah satunya melalui aplikasi yang disebut aplikasi pengajaran Kahoot. Aplikasi Kahoot adalah media pembelajaran berbasis web. Kahoot berbentuk kuis yang dimainkan secara online. Kahoot diluncurkan oleh SXSWedu, sebuah perusahaan startup asal Norwegia. Aplikasi Kahoot merupakan platform pembelajaran berbasis game, digunakan sebagai teknologi pendidikan di sekolah mau pun di Perguruan Tinggi.





Aplikasi Kahoot adalah permainan kuis pilihan ganda atau diskusi dan survei yang dapat digunakan siapa saja dan tidak terbatas pada tingkat usia dan materi pelajaran. Karena berbasis internet, untuk membuat dan memainkan kahoot harus mengakses website www.kahoot.it. Tampilan beranda yang sederhana sangat memudahkan dalam menggunakannya. Dengan menggunakan Kahoot, pemateri akan menampilkan pertanyaan kuis ke layar melalui proyektor dan siswa akan diberikan waktu mulai 20 detik untuk menjawab soal kuis tersebut melalui smartphone maupun tablet masing-masing.









Jadi media pengajaran, khususnya pengajaran bahasa, tidak perlu lagi hanya mengandalkan power point. Karena power point kurang interaktif dan tidak merangsang peserta untuk ikut aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Para dosen atau guru harus mengalihkan medianya ke aplikasi pengajaran yang berbasis website, seperti aplikasi Kahoot.





Hj. Nurhamdah, dosen bahasa Inggris yang mendampingi Sarah Drake dalam workshop tersebut menilai, metodologi pengajaran yang disampaikan Sarah Drake sangat dibutuhkan dalam pengajaran bahasa Inggris baik tingkat sekolah dasar dan menengah mau pun di perguruan tinggi, seperti IAIN Parepare. Menurutnya, Communicative Language Learning merupakan metode yang sangat tepat di adopsi para pendidik bahasa. "Metode ini akan mengaklerasi kemampuan berbahasa Inggris bagi peserta didik," ujarnya memberi penilaian.









Hj. Nurhamdah juga mengapresiasi aplikasi Kahoot yang dipernalkan Sarah Drake. Aplikasi Kahoot sangat relevan jika digunakan pada metode Communikative Language Learning. Keduanya sangat menunjang dalam proses belajar yang interaktif, efektif dan sangat menyenangkan. "Metode seperti itu yang perlu diterapkan dalam pengajaran bahasa di kampus kita. Sangat relevan dengan misi kampus, yaitu berbasis teknologi informasi," urainya. "Hanya saja, metode ini membutuhkan kompetensi berbahasa bagi dosen, dan tentu saja dengan jaringan internet yang memadai," pungkasnya.









Terhadap penampilan Sarah Drake, Hj. Nurhamdah menilai bule Australia itu sangat profesional/master dalam metodologi pengajaran bahasa. Penilaian yang sama dilontarkan Ketua Prodi Parawisata Syariah, Arkam yang ikut sebagai peserta workshop. "Cukup profesional dan materinya cukup menarik" katanya singkat.





Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah, H. Saepudin saat memberikan sambutan pada acara pembukaan workshop menyampaikan apresiasinya atas kinerja dan kerja keras yang tunjukkan Mujahidah dalam mengemban tugasnya sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan menghadir berbagai program kegiatan seperti workshop ini. H. Saepuddin, yang juga Doktor bidang pendidikan sekaligus pengampuh mata kuliah bahasa Inggris berharap workshop English Teaching Metodology ini dapat meningkatkan kemampuan belajar, mengajar dan keterampilan bahasa Inggris bagi para mahasiswa dan dosen.





Pada acara pembukaan ini, juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare dan NGO Celebes Global Art yang dilakukan oleh H. Saepudin selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Abdul Rahman sebagai Direktur CEGAT. Menurut Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Mujahidah, mereka membangun kerjasama dengan CEGAT untuk mendatangkan native speaker ke Parepare. "Kebetulan CEGAT concern dengan itu," pungkasnya.


Jumat, 28 Juni 2019

Prodi PBI Hadirkan Native Speaker dari Australia


Humas IAIN Parepare --- Dalam rangka meningkatkan motivasi, kepercayaan diri dan keterampilan pengajaran dan berbahasa Inggris bagi mahasiswa dan dosen, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Mujahidah kembali menghadirkan native speaker (pembicara asli) dari luar negeri. Kali ini, mereka mengundang Sarah Drake, seorang aktivis dan penggiat pendidikan dan pengajaran.









Sarah Drake berasal dari negara Australia dan sejak 2 bulan terakhir berada di Makassar untuk melaksanakan program pengembangan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Untuk program tersebut, Sarah bernaung di bawah organisasi Australian International Development bekerjasama dengan Celebes Global Act (CEGAT), sebuah NGO penggiat pendidikan di Makassar. Kedua lembaga ini concern pada pengembangan dan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.









Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Mujahidah ketika dikonfirmasi mengatakan, jika dirinya termotivasi menghadirkan native speaker dari luar negeri karena 2 alasan. Pertama, sebagai upaya meningkatkan motivasi dan kualitas berbahasa Inggris mahasiswa dengan mendengarkan dan berinteraksi langsung dari native speaker. Kedua, untuk memenuhi persyaratan akreditasi. Seperti yang diberitakan beberapa bulan lalu, Rektor telah mencanangkan 2019 sebagai tahun akreditasi.









"Kami akan dan tengah bekerja keras untuk mencapai akreditasi dengan predikat A. Itu tanggung jawab yang diamanahkan Rektor kepada kami selaku Ketua Program Studi. Semoga Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dapat meraih akreditasi A dan tahun 2020, IAIN Parepare dapat mencapai APT dengan predikat A pula," ujarnya saat menyambut Sarah Drake ketika datang di gedung Fakultas Tarbiyah.









Siang tadi, Jumat, 28 Juni, Sarah Drake telah berada di kampus Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare mengikuti dan menjadi native speaker pada 2 kegiatan, yaitu kegiatan "set in class" dan "out door learning" yang berlansung pada tempat berbeda. Pada kegiatan "seat in class", Sarah memberikan perkuliahan secara langsung kepada mahasiswa di dalam ruang kelas. Pada kegiatan ini, Sarah memberikan materi tentang metodologi pengajaran bahasa Inggris.









Begitu pun pada kegiatan "out door learning" yang berlangsung di Hutan Jompie, Sarah bertindak sebagai native speaker. Bedanya dengan kegiatan sebelumnya, kegiatan ini berlangsung sangat interaktif dan dialogis antara Sarah Drake dengan mahasiswa. Jumlah peserta yang mencapai 100 mahasiswa membuat Sarah harus melayani berbagai pertanyaan dan pernyataan. Mahasiswa sangat antusias dan bersemangat memberikan pertanyaan pada kegiatan yang berlangsung di ruang terbuka dalam suasana yang sangat santai dan rileks.









Sawaebah, salah satu mahasiswa asal Thailand yang juga hadir, mengaku sangat senang atas kedatangan pengajar dari Australia. "Senang sekali," ujarnya berbahasa Melayu. Ditanya, apakah mereka paham yang disampaikan native speaker, Sawaebah hanya mengangguk dan senyum. Senada dengan itu, mahasiswa lainnya, Syokran menyatakan sangat supraise dengan kedatangan native speaker dari Australia. "Kami butuh yang seperti ini. Native speaker dari luar negeri untuk melatih lisan dan pendengaran kami dengan mereka. Sayangnya, waktunya hanya sehari saja," ungkapnya.






Kamis, 27 Juni 2019

Mahasiswa HTN Belajar Legal Drafting, Langsung ke Legislator Parepare


Humas IAIN Parepare - Dalam rangka melengkapi teori-teori yang telah didapatkan pada perkuliahan, Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) Pada Fakultas Syariah dan Hukum Islam IAIN Parepare  melakukan kegiatan Study Lapang di kantor DPRD Kota Parepare. Kemarin, (26/06/2019).









Pelaksanaan kegiatan ini dilikuti oleh mahasiswa semester enam Prodi HTN khususnya pada Mata Kuliah Legal Drafting  yang didampingi langsung oleh dosen pengampu Dr. Zainal Said, M.H, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Islam, Dr. Hj. Muliaty, M. Ag, badruzzaman Nawi, S.Ag, M.H Ketua Prodi HTN, dan Dr. Hj. Rosdaya Basri, Lc, M.Ag.









Mata
kuliah Legal drafting ini membahas mengenai rancangan peraturan perundang
undangan, “sehingga untuk dapat memahami langsung mengenai proses membuat
peraturan tersebut, maka kita melakukan study lapang ini di kantor DPRD Kota
Parepare”. Ungkap Zainal Said saat di temui dikantor Akademik Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Syariah.





Pada saat tiba disana ternyata sedang berlangsung sidang paripurna “sehingga saya sampaikan kepada ketua DPRD Kaharuddin Kadir, bahwa ini sudah sangat bagus dimana mahasiswa dapat melihat langsung proses pembuatan Perda tentang pertanggungjawaban APBD tahun 2018 yang dihadiri juga oleh walikota dan wakil walikota Parepare” tambahnya lagi.





Faisal Susanto salah satu mahasiswa yang ikut juga  mengatakan kegiatan study lapang ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, “dengan adanya praktik legal drafting ini, harapannya kita mahasiswa HTN kedepan bisa menjadi legislator-legistor yang handal dalam membuat peraturan perundang-undangan”, imbuhnya.









Di
akhir kegiatan, dilanjutkan penyerahan cendramata oleh Dekan Fakultas Syariah
dan Ilmu Hukum Islam, Dr. Muliaty kepada Wakil Ketua I DPRD Kota Parepare.


Rabu, 26 Juni 2019

Proteksi Mahasiswa Baru Sejak Dini, PBAK Cegah Masuknya Paham Radikalisme


Humas IAIN Parepare - Rapat perdana Panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. (26/06/2019)





Rapat ini dipimpin langsung oleh Rektor IAIN Parepare  Dr. Ahmad Sultra, M.Si dan didampingi oleh Dr. Muhammad saleh, M.Ag, selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama serta Dr. Iskandar, M.Sos.I., selaku Ketua Panitia PBAK.









Rapat yang dilaksanakan di Balai Seni dan Budaya IAIN Parepare berjalan lancar. Berbagai masukan yang sifatnya konstruktif demi kebaikan dan kelancaran PBAK disampaikan oleh panitia.





Ahmad Sultra, ketika memberikan arahan mengatakan bahwa kegiatan PBAK ini akan dilaksanakan pada tanggal 27-30 Agustus 2019 mendatang sesuai dengan kalender akademik yang sudah ditetapkan. “Pelaksanaan PBAK  tahun ini juga merupakan yang pertama setelah berubah bentuk menjadi  IAIN”.









Disamping
itu Ahmad Sultra juga mengatakan tentang bahaya paham radikal yang mulai masuk
ke perguruan tinggi,  dimana paham
radikal ini masuk melalui pintu pintu Agama. Sehingga pelaksanaan PBAK saat ini
dianggap menjadi urgen disetiap Perguruan tinggi, “karena salah satu pintu
masuk paham radikal di perguruan tinggi itu adalah melalui penerimaan mahasiswa
baru”. tambahnya





Oleh karena itu pada pelaksanaan PBAK diharapkan menjadi awal pembinaan bagi mahasiswa, “pembinaan ini bertujuan untuk memproteksi mahasiswa agar tidak terpapar paham-paham radikal yang mengarah kepada trans nasional”.  Ungkap Ahmad









Selain
mengenai paham radikal, dirinya juga menambahkan pada pelaksanaan PBAK juga
yang sangat urgen diperhatikan adalah tradisi Anti kekerasan, “ tradisi anti
kekerasan yang dilakukan pada tahun sebelumnya mari kita  lanjutkan dan tingkatnya”. Imbuhnya





Kemudian Iskandar, sebagai Panitia melanjutkan rapat ini dengan sosialisasi mengenai pembagian tugas pokok dari masing-masing panitia. “mari satukan langkah kita, antara satu panitia dengan panitia lain dapat bekerjasama dalam menjalankan tugasnya masing-masing”. Terangnya.





Pada hari kedua pelaksanaan PBAK nanti,  panitia juga akan menghadirkan Direktur PTKIN sebagai pemateri, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag. dengan materi Moderasi Keberagamaan.


Minggu, 23 Juni 2019

Himbau jaga Kamtibmas, Pimpinan IAIN Parepare; "Jangan Terprovokasi Berita Hoax"


Humas IAIN Parepare --- Situasi kemanaman dan ketertiban masyarakat, khususnya di kota Parepare dan sekitarnya, menjadi perhatian serius dari pimpinan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. Kampus terbesar di wilayah Ajatappareng ini mengeluarkan himbauan kepada masyarakat melalui video yang disebarkan di media sosial, sejak 22 Juni lalu.









Dalam videonya, mewakili pimpinan dan civitas akademika IAIN Parepare, Wakil Rektor Bidang AUPK, H. Sudirman L., didampingi pimpinan lainnya, seperti Kepala Biro AUAK, Hj. Musyarrafah Amin, Kepala Bagian AUK, Muh. Jafar dan Kepala Sub Bagian UK, Misbahuddin menghimbau seluruh warga kampus dan masyarakat kota Parepare untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.





H. Sudirman L., juga mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi dengan berita hoax yang banyak beredar di tengah-tengah masyarakat sekaligus mendorong dan memberikan dukungan penuh kepada TNI dan POLRI dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap berlangsung kondusif.





Dikonfirmasi via whatshapp tentang latar belakang dikeluarkannya himbauan tersebut, Doktor bidang ilmu Hukum Islam ini menyatakan agar situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif, khususnya masyarakat kota Parepare.. Mereka (masyarakat) jangan sampai, mudah percaya dengan isu-isu hoax yang dengan gampang beredar melalui media sosial. Jangan karena berita bohong tersebut, masyarakat kita mudah terprovokasi dan terpancing, lalu berbuat bertikai dan rusuh.





Himbauan pimpinan IAIN Parepare ini dinilai sangat tepat. Lukman, salah satu mahasiswa yang dikonfirmasi memberi respon dan mengapresiasi baik atas himbauan tersebut. "Sangat setuju dengan himbauan pak Warek, masyarakat patut diingatkan, jangan menelan mentah-mentah berita yang ada di medsos", ujarnya.





Penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian yang disebarkan melalui media sosial (medsos) di Indonesia kian meningkat, hal ini juga dirasakan di kota Parepare. Bahkan tanpa disadari sebagian besar masyarakat yang rentan menjadi penyebar berita bohong dan ujaran kebencian melalui media sosial ialah pelajar dan mahasiswa (kaum milenal).





Akhir-akhir ini, pemerintah Indonesia sangat gencar melawan isu hoax yqng berkembang cepat di masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai regulator atas maraknya beragam media komunikasi digital juga telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya memberi sanksi tegas kepada masyarakat yang membuat dan menyebar hoax. Berdasarkan UU ITE, mereka yang menyebar, dapat dikenakan hukuman 6 tahun penjara.


Resimen Mahasiswa Kobarkan Semangat Bela Negara


Humas IAIN Parepare --- Di tengah hiruk pikuk politik dan munculnya tudingan terhadap perguruan tinggi yang disinyalir terpapar radikalisme, Resimen Mahasiswa Satuan 709 IAIN Parepare menggelar Seminar Bela Negara dan Napak Tilas Kebangsaan selama 3 hari, yakni tanggal 21 - 23 Juni 2019 di kampus IAIN Parepare.









Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dan organisasi mahasiswa dalam lingkup IAIN Parepare. Diantaranya resimen mahasiswa dari UNHAS, UNM, UINAM, UMI, Universitas Bosowa, Univeritas Cokroaminoto, IAIN Bone, IAIN Palopo, UMPAR Parepare, dan lain-lain. Dalam pelaksanaan kegiatan, Resimen Mahasiswa IAIN Parepare mendapat sekongan penuh dari TNI dan POLRI.









Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengobarkan semangat bela negara, nasionalisme, dan kepahlawanan dikalangan mahasiswa. Program bela negara ini akan menjadi proteksi masuknya paham-paham radikalisme, anti Pancasila dan NKRI di perguruan tinggi. Selain itu, menurut Komandan Resimen Mahasiswa Satuan 709 IAIN Parepare, Aidil berharap kegiatan ini juga menjadi ajang konsolidasi dan silaturrahmi mahasiswa se-Sulawesi Selatan, khususnya yang tergabung dalam Resimen Mahasiswa.





Program bela negara yang diadakan kali ini segaja didesain berbeda. Dikemas lebih akademis, yaitu melalui kegiatan seminar. Seminar lebih mengedepankan penyajian secara dialogis atau aktivitas mengasah otak sehingga bisa memperkuat ideologi para peserta terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Jika sebelumnya, program bela negara biasanya identik dengan upacara, baris berbaris, ceramah, atau kegiatan lapangan yang menimbulkan kesan kalau program bela negara berarti pelatihan semi militer.





Kegiatan seminar bela negara diadakan pada Sabtu, 22 Juni di Aula IAIN Parepare. Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut, Dr. Sitti Jamilah Amin, M.Ag (akademisi) dan yqng mewakili komandan Kodim Parepare, Sudirman. Dalam pemaparannya, Sitti Jamilah Amin yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang APL IAIN Parepare menyinggung relevansi Islam, Pancasila, dan negara. Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Sementara Sudirman lebih banyak memberikan pencerahan seputar 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka tunggql ika.









Untuk mengokohkan pikiran dan semangat bela negara yang diperoleh dari seminar tersebut, dilanjutkan dengan program napak tilas kebangsaan yang dilaksanakan pada hari ke 3, yaitu Ahad, 23 Juni. Peserta napak tilas akan long march mengikuti rute-rute bersejarah di kota Parepare. Tujuannya tidak lain untuk mengenang dan mengobarkan semangat kepahlawanan bagi peserta.









Napak tilas ini, sekaligus menjadi ajang lomba bagi seluruh kontingen antar perguruan tinggi. Instrumen penilaian peserta telah disiapkan. Selain uji fisik, peserta juga akan diuji mental dan uji wawasan kebangsaan. Pada rute napak tilas, para penilai telah menempati pos-pos tersendiri untuk melakukan penilaian terhadap masing-masing tim. Rencananya, juara napak tilas akan diumumkan pada acara penutupan.


Pengelola Jurnal IAIN Parepare Ikuti Workshop Akreditasi Jurnal Ilmiah Elektronik Kemenristekdikti


IAIN Parepare---Pengelola jurnal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare mengikuti workshop pendampingan dan percepatan akreditasi jurnal ilmiah elektronik di Hotel Dafina, Majene Selawesi Barat (21/06).









Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia  yang bekerja sama  dengan Universitas Sulawesi Barat dan Relawan Jurnal Indonesia (RJI).





Para peserta yang hadir sebelumnya diseleksi oleh panitia pelaksana berdasarkan kriteria tertentu seperti memiliki jurnal elektronik pada lembaga. Berbagai pihak pengelola diundang seperti dari Jakarta, Buton termasuk IAIN Parepare.









Terdapat empat jurnal dari IAIN Parepare yang diundang di antaranya jurnal  Kuriositas (diterbitkan LP2M), Komunida (diterbitkan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah), Al-Maiyyah (diterbitkan LP2M) serta Al-Islah (diterbitkan Fakultas Tarbiyah).






Muhammad Aswad, Ketua Relawan Jurnal Indonesia




Muhammad Aswad, Ketua Relawan Jurnal Indonesia mengungkapkan workshop ini dilaksanakan dalam rangka percepatan jurnal akreditasi nasional.





“Sekarang Dikti itu targetnya sekitar 7.000 jurnal elektronik harus terakreditasi  se Indonesia,” ucap Aswad.





Muhammad Arsyad, Asesor.




Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu assessor
Muhammad Arsyad saat ditemui di lokasi kegiatan.





“Kita ingin supaya jurnal ini bisa bertambah lagi lebih cepat. Dengan cara seperti ini maka para pengelola jurnal bisa memperbaiki dan kita langsung assesmen, apa yang kurang terus diperbaiki lalu siap disubmit untuk akreditasi nasional,” jelas Arsyad.









Selain itu,  Arsyad mengungkapkan masih kurangnya jurnal terakreditasi nasional sehingga perlu melakukan pendampingan dan percepatan.





“Yang mau sarjana, master, doktor sekaligus yang mau professor itu seluruhnya butuh publikasi ilmiah. Kendala kita sekarang adalah jurnal terakreditasi nasional tidak mencukupi  sesuai yang disarankan artinya jurnal yang telah terakreditasi nasional itu masih kurang. Karena itu Kemenristekdikti melakukan percepatan akreditasi ,” jelas Arsyad.









Para pengelola jurnal IAIN Parepare mengaku bersyukur dengan adanya kegiatan ini, khususnya pada proses asesmen yang dapat memberikan acuan kepada para pengelola jurnal untuk memperbaiki kualiatas jurnal baik dari manajerial jurnal maupun substansi jurnal.





"Acaranya sangat bermanfaat peserta tidak sekedar menerima teori tapi satu per satu pengelola jurnal langsung dibimbing praktek manajerial OJS dan subtansi jurnal", ujar salah satu peserta workshop, Islamul Haq (pengelola Jurnal Kuriositas LP2M IAIN Parepare).






Rabu, 19 Juni 2019

Kontroversi “Simbol Dajjal” di Masjid al-Syafar, Dosen IAIN Parepare Bela Ridwan Kamil


Humas IAIN Parepare --- Beberapa minggu terakhir,
nitizen dikagetkan dengan munculnya tuduhan bahwa desain masjid al-Syafar
menyerupai simbol dajjal. Masjid yang terletak di Rest Area KM 88 Jalan Tol
Cipulareng kota Bandung merupakan masjid yang didirikan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa
Barat. Tuduhan ini dilontarkan oleh ustas Rahmat Baequni melalui videonya yang viral
di youtube.





Masjid al-Syafar Nampak dari atas




Video yang telah dinonton ratusan ribu kali ini
mengundang kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Kontroversi ini mengalami
eskalasi yang tinggi karena melibat dua figur publik, yaitu Rahmat Baequni,
salah seorang tokoh agama di Jawa Barat yang memiliki cukup banyak jamaah dan
pihak lain, ada Ridwal Kamil selaku arsitektur masjid al-Syafar, yang juga
Gubernur Jawa Barat. Dalam waktu yang singkat, isu ini telah tersebar ke
seluruh pelosok nusantara.





Untuk mencegah polemik berkepanjangan, pengurus MUI
Jawa Barat telah memfasilitasi dialog antara Ridwan Kamil dengan ustas Rahmat
Baequbi, Senin, 10 Juni yang lalu. Seperti yang dikutip dari media online Kumparan.com,
Kang Emil – sapaan akrab Ridwan Kamil – memberikan klarifikasi terkait desain
dan arsitektur masjid al-Syafar.





Masjid al-Syafar nampak dari samping




“Saya meminta
masyarakat untuk berpikir positif bahwa masjid adalah tempat ibadah dan tak
terpengaruh dengan berbagai bentuk bangunan. Saya meyakini kalau iman kita kuat
mau kita melihat apapun geometri, dan visual tidak mengubah iman kita." Emil
kemudian mencontohkan beberapa masjid yang mengandung bentuk segitiga dan
lingkaran. Misalnya Masjid Trans Studio Bandung yang terdapat bentuk segitiga
dengan lingkaran di tengah atau disebut mata satu.Bila simbol segitiga dan
lingkaran dilarang,





Emil
menyebut, simbol berupa bulan sabit yang digunakan sebagai lambang Pancasila
dan logo organisasi FPI pun mesti dilarang. "Kalau lingkaran segitiga enggak
boleh maka kita harus konsisten bintang lima juga dilarang, apa yang terjadi?
Maka semua lambang yang ada masjid dan bulan sabit maka harus dilarang. Berarti
lambang Pancasila dilarang, lambang FPI dilarang itu kalau konsisten bentuk itu
dilarang," kata Emil.





Emil juga
mencontohkan Masjid Nabawi hingga Masjid Raya Jakarta yang mengandung bentuk
segitiga dan lingkaran. Dia meminta keadilan agar masyarakat menilai sama
masjid karyanya dengan masjid-masjid lainnya."Masjid Nabawi dan Masjid
Raya Jakarta, kenapa tidak heboh? Mungkin karena arsitekturnya bukan (karya)
Ridwan Kamil jadi tidak ramai, tidak
picemooheun
," imbuh dia.





Bagian dalam Masjid al-Syafar




Menanggapi
hal tersebut, Dr. H. Muhiddin Bakry, Lc.,M.Fil.I., salah seorang dosen IAIN
Parepare memberi pembelaan kepada Ridwal Kamil. Menurut Alumni Universitas
al-Azhar Kairo ini, tuduhan yang dialamatkan kepada karya Ridwan Kamil tersebut
sangat berlebihan dan hanya didasarkan pada asumsi-asumsi saja.





Klarifikasi
yang disampaikan Kang Emil, dinilai Muhiddin lebih rasional dan akademis.
Bahkan Ketua Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ini mengsinyalir jika tuduhan yang dilontarkan ustas Rahmat Baequni masih
dilatari politik (pilpres). Menurutnya, pasca pilpres muncul gerakan penggalangan
wacana dari kelompok-kelompok ektrimis.





“Eksistensi
idiologi-idiologi yang mengarah kepada interpertasi teks secara tekstualis akan
terus menggalakkan wacana kontroversial untuk mendapatkan dukungan guna mempertahankan
eksistensi dan legalistas mereka di NKRI,” papar Muhiddin. “Semestinya, simbol-simbol
Ilahiyah berupa kebersamaan dan persatuan itulah yang harus diaktualisasikan
dan dibumikan. Jangan justru yang bertentangan nilai-nilai Ilahiyah seperti
perpecahan dan disintegrasi yang terus dikembangang di masyarakat,” tegasnya.


Senin, 17 Juni 2019

Menuju Tertib Administrasi, Biro AUAK IAIN Parepare Lakukan Sosialisasi


Humas IAIN Parepare - Biro Administrasi Umum, Akademik dan Keuangan (AUAK) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Keputusan Rektor Nomor 538 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kode Indeks Surat Dinas dan Penataan Kearsipan di lingkungan IAIN Parepare. Sosialisasi ini dilaksanakan di gedung Aula IAIN Parepare, Senin (17/06). Dihadiri kepala bagian, para kepala sub bagian , para kepala unit teknis, dan kepala satuan pengawasan Internal.









Kegiatan sosialisasi ini
dilaksanakan guna meningkatkan mutu penyelenggaraan kearsipan menuju tertib
administrasi yang berdaya guna dan berhasil guna.





Selain itu, juga dilaksanakan
demi kelancaran efektivitas komunikasi organisasi dalam IAIN Parepare.





Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Keuangan Hj. Musyarrafah Amin  dalam arahannya menyampaikan beberapa hal terkait penggunaan kode indeks surat dinas.









 “Agar tidak tumpang tindih dengan perubahan unsur organisasi yang ada di IAIN Parepare setelah perubahan bentuk sehingga perlu adanya penyesuaian kode indeks surat dinas dan penataan kearsipan dalam lingkungan IAIN Parepare”, ungkapnya.









Lebih lanjut, Musyarrafah juga
menambahkan selain mengenai penggunaan kode indeks sosialisasi ini juga  membahas mengenai tata cara pelaporan
pertanggunjawaban dan tata cara permohonan anggaran kegiatan.





“Perlu adanya persamaan persepsi
dalam pembuatan laporan keuangan sekecil apapun itu jumlah anggaran yang
digunakan harus dibuatkan pelaporan anggaran sehingga perlu diseragamkan model
laporannya”, tambahnya.


IAIN Parepare Upacara Tiap Tanggal 17 sebagai Upaya Jaga Semangat Nasionalisme


Humas IAIN Parepare - Upacara pengibaran bendera merah putih pertama setelah bulan ramadhan dilaksanakan di depan gedung perkuliahan Fakultas Usuluddin, Adab dan Dakwah, yang dikuti oleh seluruh keluarga besar IAIN Parepare, Senin (17/06).









Kegiatan pengibaran bendera ini
rutin dilaksanakan setiap bulan pada tanggal 17 guna menumbuhkan semangat
nasionalisme persatuan dan kesatuan bangsa.





Adapun yang bertugas sebagai
pelaksana upacara bendera adalah dari Fakultas Tarbiyah.





Dr Herdah, M.Pd, sebagai pembina
upacara menyampaikan bahwa upacara bendera yang dilaksanakan setiap bulannya
bukan hanya sekedar seremony biasa.





 “Bukan hanya sekedar silaturahmi biasa tetapi
upacara bendera ini bertujuan untuk mendisiplikan dan meningkatkan rasa
nasionalisme kita terutama sebagai warga IAIN Parepare”, ucapnya.





Lebih lanjut, Herda mengungkapkan upacara bendera juga merupakan salah satu kegiatan yang membuat  kita taat dan patuh kepada pimpinan.









“Siapapun pemimpinnya selama kita
masih bawahannya maka kita harus mentaatinya selama masih berada di jalan yang
benar” ungkap Herda saat memberikan amanat.


Jumat, 14 Juni 2019

Akademisi IAIN Parepare Sedang Merintis Jalan ke Surga


Humas IAIN Parepare --- Akademisi kampus khususnya dosen, memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat. Kinerja dosen diukur dari sejauhmana mereka melaksanakan ketiga tugas pokok tersebut.









Secara teknis, tugas pengabdian kepada masyarakat lebih fokus pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang tentu saja, pelaksanaannya berlangsung di luar kampus. Tugas pengabdian kepada masyarakat memerlukan komitmen, kapasitas, dan kreativitas dosen dalam membuat program pemberdayaan masyarakat.





Terkait hal tersebut, dua dosen IAIN Parepare, yaitu Dr. KH. Agus Muchsin, M.Ag dan KH. Muhammad Iqbal, S.Pd.I., M.Pd.I., menerima amanah untuk membuat dan mendirikan pesantren di kota Parepare. Kedua akademisi yang terkenal sebagai ulama ini memperoleh amanah dari tokoh dan umat Islam di kota Parepare.









Bagi Agus Muchsin, amanah itu adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat yang harus diwujudkan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Meski pendirian pesantren itu sangat berat dan membutuhkan dana yang besar, Agus Muchsin dan Muhammad Iqbal tetap menerima amanah tersebut.





Agus Muchsin menyebut pendirian pesantren itu sebagai "Proyek Jalan Menuju ke Surga". "Kami menerima proyek pendirian pesantren ini karena kami meyakini, itulah jalan mulus kami ke surga. Proyek itu adalah investasi akhirat karena proyek itu termasuk amalan jariyah" ujarnya saat ditemui. "Kami memperoleh amanah tersebut pada pertengahan bulan suci Ramadhan lalu. Jadi kami berniat dan memulai proyek itu di bulan suci dan Insyaallah mabbarakka," tambahnya.





Secara singkat Agus Muchsin menyampaikan rencana pendirian pesantren tersebut. Menurutnya, lokasi pesantren akan didirikan di atas lahan yang beralamat di Jalan Industri Kecil, sekitar masjid Darul Mubaraqah Kelurahan Lembah Harapan Kecamatan Soreang Kota Parepare. Lahan itu merupakan wakaf pemberian dari salah satu tokoh masyarakat yang bernama H. Mas'ududdin.









Rencananya, pesantren yang akan didirikan tersebut diberikan nama Ma'had al Mas'udiyah al Syazhiliyah. Mas'udiyah dinisbahkan nama pewakaf lahan, H. Mas'ududdin. Sementara al Syadziliyah adalah nama aliran thariqah yg dinisbahkan pd syekh Abu Hasan al Syadzili. Kosep pengembangannya akan mengadopsi kosep li Dirasatil Qur'an, yaitu pesantren yang akan fokus pada kajian al-Quran secara holistik, meliputi hapalan, terjemah, tafsir, dan pengamalan al-Quran.





Selain itu, menurut Agus Muchsin, pesantren yang akan dikembangkannya memiliki karakter spiritual dengan amalan zikir dan wirid yang dikembangkan oleh KH. Muh. Yusuf, yaitu zikir dan wirid al-Syazhiliyah. Amalan ini diterima langsung oleh KH. Muh. Yusuf dari ulama besar di Makkah ketika belajar selama 9 tahun di sana. KH. Muh. Yusuf adalah kakek dari KH. Dr. Agus Muhcsin yang memiliki jasa beaar terhadap pengembangan Islam di Sulawesi Selatan. Amalan zikir dan wirid al-Syazhiliyah juga dikembangkan mertua KH. Muhammad Iqbal di Sengkang, yaitu Anregurutta KH. Malik.


Kamis, 13 Juni 2019

Radio Akademia IAIN Parepare, Undang Narasumber Peraih Beasiswa dari Lehigh University US


IAIN Parepare--- Salah satu program acara radio akademia IAIN Parepare Obrolan Mahasiswa (Orasi) mengundang dua narasumber peraih beasiswa (fullbrigth) dari Lehigh University Bethlehem United State (US), Kamis (13/06).





Rahma (sisi kiri) dan Halima (sisi kanan). Keduanya di universitas sama namun berbeda jurusan.





Kedua narasumber tersebut yakni Halima Penno M.S in Instructional Technology dan Rahma Bakoko, M. Ed in Comparative and Internasional Education. Keduanya merupakan alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STAIN Parepare yang kini telah berubah bentuk menjadi IAIN Parepare.
Penanggung jawab radio akademia Nurhakki mengungkapkan diudangnya kedua narasumber tersebut guna berbagi semangat serta kiat-kiat memperoleh beasiswa S2 ke luar negeri.
“Semoga pendengar terinspirasi dengan perjuangan yang telah dilakukan oleh dua sahabat tersebut bahwa di IAIN Parepare mereka mendapat pondasi akademik yang kuat untuk bisa lanjut S2 di Amerika Serikat,” harap Nurhakki yang juga Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).





Saat diwawancarai, Halima menuturkan suka duka kuliah di luar negeri serta pentingnya senantiasa berusaha semaksimal mungkin. Selain itu, juga dibutuhkan sikap berpikiran terbuka (open Minded).
“Di sana itu, sebisa mungkin saya maksimalkan diri. Kalau kita menutup diri, kita tidak akan tahu seperti apa lingkungan kita karena dengan bergaul dengan orang lain kita bisa mempelajari lingkungan di mana kita berada,” ucap Halima yang berasal dari kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan (Pangkep).










Sementara Rahma yang berasal dari kabupaten Pinrang mengungkapkan beberapa tips kuliah ke luar negeri. “Intinya itu tahu kelebihan dan kekurangan lalu bergaullah dengan komunitas-komunitas pengejar beasiswa karena transfer semangatnya itu sangatlah berbeda,”ucap Rahma yang juga menjadi dosen di Thailand.
Amrihani selaku penyiar yang memandu program acara mengungkapkan kekagumannya terhadap kedua narasumber.
“Mereka memberi motivasi bahwa sebuah kesuksesan yang besar berawal dari kegigihan serta tekad yang kuat. Selama kita ingin belajar, berusaha dan berdoa maka segala sesuatu akan dimudahkan. Satu pesan yang sangat saya suka dari narasumber bahwa dalam hidup kita harus selalu berbagi karena didalam berbagi itulah terdapat berkah yang luar biasa,” jelas Amrihani usai menutup program siaran.
Radio akademia IAIN Parepare merupakan radio komunitas kampus yang dapat didengarkan pada frekuensi 107,7 FM.






Tahap Akhir, Pendaftaran Jalur UM Mandiri 2019


Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare memasuki tahap akhir pendaftaran yakni jalur UM (Ujian Masuk) Mandiri IAIN Parepare.






https://youtu.be/g4mB3wlZ7e0




Pendaftaran jalur Mandiri dimulai dari tanggal 6 Mei-8 Juli 2019. Pendaftar bisa langsung datang di sekretariat Penerimaan Mahasiswa Baru IAIN Parepare pada setiap hari kerja mulai jam 07.30-16.00 Wita.





Adapun syarat dan prosedurnya sebagai berikut:





  1. Calon Mahasiswa datang ke Sekretariat Penerimaan Mahasiswa Baru IAIN Parepare dengan memperlihatkan identitas seperti KTP, SKL, SKHU, Ijazah dan identitas otentik lainnya , kemudian panitia akan memberikan SETUP dan PASSWORD LOG IN.
  2. Calon mahasiswa baru selanjutnya mengambil blanko pembayaran di Keuangan (Gedung Rektorat IAIN Parepare).
  3. Calon mahasiswa baru membayar uang pendaftaran di BRI sebesar Rp. 250.000
  4. Calon mahasiswa baru kemudian mengembalikan blanko pembayaran keuangan untuk dilakukan validasi pembayaran.
  5. Calon mahasiswa baru selanjutnya mengisi formulir pendaftaran di Sekretariat PMB IAIN parepare.
  6. Selanjutnya panitia akan mencetakkan kartu Ujian Mandiri yang dilengkapi dengan informasi jadwal ujian.
  7. Calon mahasiswa baru mengikuti ujian berbasis computer sesuai dengan jadwal yang tertera pada kartu Ujian.





Info lebih lanjut silahkan hubungi Sekretariat PMB IAIN Parepare.





Contact Person:





085-255-417-075 (Dr. Musyarif, M. Ag)





085-257-099-481 (Dr. M. Ali Rusdi, S. Th.I., M.H.I)

























IAIN Parepare juga telah membuka pendaftaran program Magister (S2)






https://youtu.be/YfNAgo004iM






Rabu, 12 Juni 2019

Rapat Perdana UM Mandiri, IAIN Parepare optimis capai target


Humas IAINParepare - Panitia UM Mandiri IAIN Parepare mengadakan rapat perdana mengenai persiapan dan sosialisasi di lantai dua gedung Zona Akreditasi, Selasa, 11/06/2019.
Rapat ini dihadiri oleh Wakil rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Wakil Rektor III Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan.










Ketua panitia UM Mandiri, Musyarif mengatakan bahwa proses pelayanan UM (Ujian Masuk) mandiri ini sudah dibuka sejak 6 mei 2019.
“Jadi masih ada tersisa satu bulan hingga ditutup pendaftaran pada 8 juli 2019 nanti. Mengingat pendaftaran UM Mandiri tinggal satu bulan lagi, jadi kalau kita melihat berdasarkan pengalaman sebelumnya untuk mencapai target penerimaan tahun ini perlu kiranya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat baik itu melalui media cetak maupun media online” ucap musyarif.
Lebih lanjut Musyarif berharap agar target penerimaan mahasiswa baru dapat tercapai.
“Kita berharap semoga UM mandiri tahun ini seperti tahun tahun sebelumnya dimana tidak pernah memenuhi target tetapi selalu melebihi dari target yang ingin dicapai” tambahnya.










Sementara Wakil Rektor I Dr. Siti Jamilah Amin, dalam arahannya juga setuju mengenai perlunya sosialisasi Um mandiri.
“Memang pada tahun ini kita sudah tidak melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah lagi seperti pada tahun sebelumnya karena IAIN Parepare sudah banyak yang mengenal dari media sosial maupun dan sudah cukup banyak alumni kita yang tersebar di berbagai daerah. Jadi tinggal kita menambah kegiatan promosi UM Mandiri ini menggunakan media cetak dan media elektronik dengan menawarkan Program studi sesuai dengan kuota yang dibutuhkan” ungkap Jamilah.